Posyantek Pekalongan

SIRUP MANGROVE

E-mail Print PDF

DEGAYU – Siapa sangka, mangrove atau bakau yang jadi benteng terjangan ombak laut, rupanya bisa dibuat sirup. Seperti yang dilakukan oleh Wartek Kelurahan Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara. Dengan pendampingan dari Posyantek Mitra Pantura, ibu-ibu berencana untuk memperkenalkan pemanfaatan buah mengrove itu pada warga setempat. Sehingga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.

Inovasi itu dilakukan karena pihaknya melihat bahwa di sekitar wilayah tersebut yang merupakan daerah pantai banyak bertebaran tanaman mangrove. Setelah melakukan studi banding ke surabaya, akhirnya tertarik untuk ikut mengembangkan buah buah mangrove dibuat menjadi sirup. “Selama ini buah mangrove belum dimanfaatkan secara maksimal. Akhirnya kita bersama-sama ibu-ibu Degayu berkeinginan agar buah ini bisa memberikan manfaat lebih banyak dari segi ekonomi, salah satu caranya adalah membuatnya menjadi sirup,” kata Ibu Neni Ketua Wartek kemarin.

Ibu Neni menuturkan, buah mangrove yang diolah menjadi sirup berasal dari jenis 'Sone Ratia', atau yang biasa dikenal orang lokal sebagai 'Kapidada'. “Disamping jenis mangrove Rhizopora Mucronata yang memang paling banyak bisa kita temukan, jenis Kapidada ini juga bisa dengan mudah kita temukan di daerah pantai di Pekalongan,” tuturnya. Ia mengungkapkan, sebelumnya buah mangrove di Pekalongan seringkali dibiarkan begitu saja, tanpa diolah lebih jauh lagi. Buah berwarna hijau, berbentuk bulat seperti buah apel itu biasanya secara alami kalau sudah masak kemudian jatuh dari pohonnya dan berkembang menjadi bibit mangrove.

Karena sudah paham ada manfaat ekonominya, kini buah-buah itu dikumpulkan oleh kelompok petani mangrove setempat, untuk selanjutnya dijual untuk kemudian diolahjadi sirup. “Buah ini sangat ekonomis, tumbuh di mana saja di kawasan pantai, sepanjang musim. Untuk mendapatkannya, kita membelinya dari petani mangrove. Per kilo buah mangrove dijual seharga Rp 3 ribu,” ujarnya. Ia menjelaskan, buah mangrove sangat berguna bagi kesehatan tubuh karena banyak mengandung vitamin C, selain juga mengandung unsur karbohidrat. “Kandungan vitamin C-nya tinggi, juga mengandung karbohidrat. Jika dikonsumsi, bisa untuk menurunkan tekanan darah, mengobati batuk, dan lainnya,” bebernya.

Selain bisa dibuat sirup, buah mangrove juga bisa diolah menjadi sabun. “Ampasnya jika diolah lagi juga bisa dibuat tepung,” imbuhnya. Pengolahan buah mangrove menjadi sirup, kata Diyah, tergolong sangat mudah. Yang dipakai untuk sirup adalah daging buah mangrove yang sudah masak. Caranya, daging buah mangrove Kapidada dikupas, lalu digiling hingga halus dalam blender. Kemudian sari buahnya di saring, direbus dicampur dengan gula untukmendapatkan rasa manis dan ditambah pewarna alami makanan berwarna hijau. “Kita tambahkan gula karena rasa buah ini sangat kecut.

Untuk mendapatkan dua botol sirup, dibutuhkan ¼ buah mangrove, dan 1 kilogram gula. “Setelah diproses, sirup buah mangrove ini rasanya asam manis dan sedikit rasa sepet. Jika dicampur es batu, rasa sirup ini makin segar di tenggorokan untuk menghilangkan dahaga. Lebih lanjut dijelaskan, saat ini produksi sirup mangrove dari Degayu masih sebatas dikenalkan pada acara-acara di kelurahan, ibu-ibu, dan BKM tingkat Kota Pekalongan. Kedepannya, kata Atika, sirup mangrove akan diproduksi secara massal, dan dikemas ke dalam botol khusus untuk dijual ke masyarakat.


 

Gandeng Posyantek, Ubah Sampah Jadi Minyak Bakar

E-mail Print PDF

Menggandeng Pos Pelayanan Teknologi Tepat Guna (Posyantek) Mitra Pantura, Pekalongan Utara, siswa-siswi SMA Al Irsyad melakukan praktek mengubah limbah plastik menjadi minyak bakar, Sabtu (15/3). Seperti apa?

M. AINUL ATHO’,Pekalongan

PRAKTEK salah satu Teknologi Tepat Guna hasil kreasi Mitra Pantura tersebut, diharapkan dapat mendorong para siswa untuk lebih kreatif dan dapat menciptakan teknologi tepat guna yang bermanfaat bagi masyarakat.

Kepala SMA Al Irsyad, Idrus Herawandi mengatakan, pihaknya memang berinisiatif untuk mendorong kreatifitas siswa. Tak hanya kreatif, pihaknya berharap agar kedepan siswa bisa termotivasi menciptakan TTG yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Kegiatan hari ini memang merupakan inisiatif sekolah melalui OSIS. Kami bekerjasama dengan Posyantek Mitra Pantura untuk memperlihatkan kepada siswa salah satu TTG yang bisa dikembangkan, dan bermanfaat bagi masyarakat,” tuturnya.

TTG hasil kreasi Mitra Pantura, dinilai Idrus, menjadi salah satu contoh TTG yang sederhana, namun mempunyai manfaat besar. Manfaat pertama, teknologi tersebut bisa mengurangi sampah dan limbah plastik di sekitar lingkungan.  Selain itu, teknologi tersebut juga bisa memberikan bahan bakar alternatif bagi masyarakat.

“Untuk itu, kami menggandeng Mitra Pantura untuk praktek langsung disini, agar siswa bisa melihat dan termotivasi. Kedepan, kami berencana mengembangkan lebih lanjut teknologi ini agar semakin baik. Kami akan mengajarkan kepada siswa. Sehingga mereka bisa mempraktekannya secara mandiri dan targetnya akan kami sosialisasikan kepada masyarakat,” imbuhnya lagi.

Ketua OSIS setempat, Haim Minif Nahdi mengatakan hal serupa. Menurutnya, OSIS akan mencoba menjadikan teknologi tersebut menjadi salah satu kegiatan OSIS kedepan. “Kami akan tularkan kepada siswa yang lain dengan melakukan praktek teknologi secara mandiri. Harapannya, teknologi daur ulang sampah ini bisa bermanfaat, minimal di lingkungan sekolah,” ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris Posyantek Mitra Pantura, Burhanudin memberikan apresiasi terhadap inisiatif sekolah yang sudah mengundang Posyantek Mitra Pantura. Karena menurutnya, langkah pengenalan teknologi tersebut kepada generasi muda menjadi salah satu hal penting yang perlu dilakukan. “Harapannya, generasi mudalah yang bisa menyempurnakan teknologi ini jika masih ada kekurangan,” ucapnya.

Menurut Burhanudin, teknologi daur ulang sampah plastik menjadi minyak bakar tersebut menjadi salah satu teknologi paling sederhana. Alat-alat yang dibutuhkan berupa tabung, pipa kapiler dan sejumlah sampah plastik, sangat mudah ditemui di lingkungan sekitar. “Dengan alat yang sederhana, siswa bisa mempraktekan secara mandiri teknologi ini dan bisa memanfaatkannya minimal untuk lingkungan sekolah,” imbuhnya.

Selain SMA Al Irsyad, dikatakannya, sudah ada beberapa sekolah yang juga ingin bekerjasama dalam mengembangkan teknologi tepat guna bersama Mitra Pantura. Diantaranya adalah SMA 3, SMA Bernadus sampai STAIN Pekalongan. “Tidak hanya teknologi daur ulang sampah, kami juga memberikan materi mengenai manajemen bisnis, dan meminjamkan alat TTG hasil kreasi kami bagi siswa yang ingin mengembangkannya,” pungkas Burhanudin.

 

KUPU-KUPU DAUN

E-mail Print PDF

 

 

Kupu Hias dari Daun Kupu-Kupu

21 September 2013 22 Komentar

 

Teman, tahukah apa nama daun ini ?

DAUN_KUPU

Kalau di daerahku sering disebut Daun Kalibangbang, ada juga yang menyebutnya Daun Kupu-kupu.  Ketika aku tanya mbah Google, tentang Daun / Pohon Kalibangbang, tak ada hasil pencarian yg mengena, namun ketika kuganti kata kuncinya dengan Daun Kupu-kupu, hasilnya adalah sejenis pohon yang nama latinnya  Bauhinia purpurea.

Ternyata, oleh tangan-tangan kreatif, daun tersebut dapat ‘disulap’ menjadi kupu-kupu hias yang cantik lho…. Bahkan sayapnya bisa digambari motif batik juga.. jadilah Kupu Batik yang cantik & ber nilai ekonomi :)

Warna-warni kupu hias dari Daun Kupu-kupu

Warna-warni kupu hias dari Daun Kupu-kupu

Yang bermotif batik pun tak kalah cantik

Yang bermotif batik pun tak kalah cantik

Ketika kutanya pada Mas Beni  -yaitu salah seorang pengurus Pos Pelayanan Teknologi ( POSYANTEK ) Mitra Pantura Kec. Pekalongan Utara- cara pembuatan kupu hias dari daun ini tak terlalu sulit.  Awalnya daun direbus dengan air yang telah ditambahi soda api & tawas, lalu setelah itu dicuci dengan air biasa sambil menghilangkan khlorofil dari daun yang telah berubah warna itu.  Setelah dikeringkan, maka daun pun siap untuk di potong sesuai pola sayap kupu-kupu yang diinginkan.  Untuk mempercantik si kupu-kupu, maka ditambahkan warna-warni & motif indah… termasuk juga motif batik.  Setelah dirangkai, maka siaplah kupu-kupu hias nan cantik itu.

Pada pameran hasil Teknologi Tepat Guna (TTG) yang lalu, mereka menjual hiasan cantik ini secara satuan maupun ‘paket’ berisi 3 / 4 / 5 model kupu-kupu.  Harganya relatif terjangkau kok.. paket berisi 4 kupu warna-warni, hanya Rp. 40.000,- saja, sedangkan sebuah Kupu Batik agak besar dalam pigura diberi harga Rp. 300.000,-an.

Stand POSYANTEK Mitra Pantura di pameran kemarin itu...

Stand POSYANTEK Mitra Pantura di pameran kemarin itu…

Selain Kupu hias dari Daun Kupu-kupu itu, dipamerkan pula beberapa produk TTG yang dihasilkan kelp. masyarakat ini, antara lain Kerupuk Sayuran, Septictank apung (yang cocok untuk daerah yg sering banjir / rob), alat fermentasi mikro organik cair,  dll.  Mereka memang orang-orang yang kreatif.  Tak heran jika kelp ini juga mewakili Prop. Jawa Tengah dalam Lomba POSYANTEK  Tk Nasional yang diadakan dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HARTEKNAS) yang penilaiannya di Jakarta awal bulan ini.  Mudah-mudahan saja hasilnya bagus, sehingga makin menambah semangat mereka…

Bagaimana teman, ingin mencoba membuat Kupu Hias-mu sendiri? :)

Edit 28 Sept 2013 :

Alhamdulillah… Posyantek Mitra Pantura berhasil membawa Jawa Tengah menjadi Juara I Lomba Posyantek Tk Nasional Th 2013..   :D

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  Next 
  •  End 
  • »